
Teladan terbaik dalam menghadapi berbagai ujian dakwah adalah Rasulullah ﷺ. Beliau menghadapi penolakan, hinaan, caci maki, pemboikotan, hingga berbagai bentuk gangguan dari kaumnya. Namun, semua itu tidak menghalangi beliau untuk terus menyampaikan risalah Allah dengan hikmah, kelembutan, dan kasih sayang.
Ketika penduduk Thaif mengusir dan melempari beliau dengan batu hingga berdarah, beliau tidak mendoakan kebinasaan mereka, tetapi justru berharap agar Allah mengeluarkan dari keturunan mereka orang-orang yang beriman. Inilah akhlak yang seharusnya menjadi teladan bagi setiap pemakmur masjid.
Tidak semua perkataan yang menyakitkan harus dibalas, tidak semua perbedaan harus berakhir dengan permusuhan, dan tidak semua kesalahpahaman harus diselesaikan dengan perdebatan. Sering kali, kesabaran, kelapangan dada, kelembutan dalam bermuamalah, serta doa yang tulus jauh lebih mampu menjaga ukhuwah dan menyatukan hati daripada memperturutkan ego atau keinginan untuk memenangkan pendapat sendiri.
Semangat tersebut ditegaskan oleh Rasulullah ﷺ dalam sabdanya:
الْمُؤْمِنُ الَّذِي يُخَالِطُ النَّاسَ وَيَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ خَيْرٌ مِنَ الْمُؤْمِنِ الَّذِي لَا يُخَالِطُ النَّاسَ وَلَا يَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ
“Seorang mukmin yang bergaul dengan manusia lalu bersabar atas gangguan mereka lebih baik daripada seorang mukmin yang tidak bergaul dengan manusia dan tidak bersabar atas gangguan mereka.” (HR. Ahmad, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah)
Hadis ini memberikan pelajaran yang sangat berharga bagi para pemakmur masjid. Berkhidmat di masjid berarti berinteraksi dengan banyak orang yang memiliki watak, kebiasaan, tingkat pemahaman, dan cara berkomunikasi yang beragam. Semakin luas interaksi, semakin besar pula peluang munculnya kesalahpahaman. Oleh karena itu, ukuran keberhasilan seorang aktivis masjid bukan hanya banyaknya program yang berhasil dilaksanakan atau kemampuannya menyampaikan ceramah, tetapi juga kelapangan dadanya dalam menerima kekurangan saudaranya, kesanggupannya menahan lisan ketika marah, serta kemampuannya menjaga persaudaraan di tengah perbedaan.
Kesabaran juga sangat dibutuhkan dalam menuntut ilmu dan mengamalkannya. Dakwah yang benar tidak mungkin dibangun di atas kebodohan. Karena itu, setiap pemakmur masjid hendaknya terus belajar memahami Al-Qur’an, As-Sunnah, ilmu syar’i dan berbagai ilmu bermanfaat lainnya. Proses belajar membutuhkan kesabaran, sebagaimana mengamalkan ilmu juga membutuhkan kesabaran.
Demikian pula ketika menyampaikan ilmu kepada masyarakat. Tidak semua orang dapat memahami nasihat dengan cepat. Ada yang membutuhkan penjelasan berulang-ulang, ada yang harus didekati dengan kelembutan, dan ada pula yang memerlukan waktu hingga hatinya siap menerima kebenaran.
Di lingkungan masjid, sering kali persoalan yang muncul bukanlah persoalan benar atau salah, melainkan persoalan cara menyampaikan pendapat, perbedaan sudut pandang, atau perbedaan dalam menentukan prioritas. Selama perbedaan tersebut masih berada dalam wilayah ijtihad dan tidak bertentangan dengan syariat, hendaknya diselesaikan melalui musyawarah yang dilandasi keikhlasan dan saling menghormati. Jangan sampai persoalan kecil berkembang menjadi perselisihan yang mengganggu ukhuwah dan mengurangi keberkahan dakwah.
Allah Ta’ala berfirman:
وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا لَا يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًا ۗ إِنَّ اللَّهَ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطٌ
“Jika kamu bersabar dan bertakwa, tipu daya mereka tidak akan membahayakanmu sedikit pun. Sesungguhnya Allah Maha Meliputi segala apa yang mereka kerjakan.” (QS. Āli ‘Imrān [3]: 120)
Ayat ini mengajarkan bahwa kesabaran harus berjalan beriringan dengan ketakwaan. Kesabaran bukan berarti membiarkan kesalahan, tetapi menghadapinya dengan cara yang diridhai Allah. Ketakwaan menjaga agar lisan tetap santun, hati tetap bersih, dan tujuan dakwah tetap lurus. Dengan demikian, setiap persoalan dapat diselesaikan tanpa mengorbankan persaudaraan.
Karena itu, marilah kita menjaga hati agar tidak mudah tersinggung, menjaga lisan agar tidak mudah menyakiti, serta menjaga prasangka agar tidak mudah berburuk sangka kepada saudara seiman. Jangan sampai perbedaan cara berpikir menghilangkan rasa hormat. Jangan sampai perbedaan pendapat memutus tali persaudaraan. Jangan sampai semangat memakmurkan masjid padam hanya karena persoalan yang sesungguhnya dapat diselesaikan dengan musyawarah, saling memahami, dan saling memaafkan.
Allah Ta’ala juga menjanjikan pahala yang sangat agung bagi orang-orang yang sabar.
إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ
“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang akan disempurnakan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar [39]: 10)
Janji ini menjadi penyejuk hati bagi setiap pengurus masjid yang tetap berkhidmat meskipun lelah, bagi setiap da’i yang terus menyampaikan nasihat meskipun tidak selalu mendapat sambutan, bagi setiap guru Al-Qur’an yang dengan penuh kesabaran membimbing murid-muridnya, serta bagi setiap jamaah yang memilih memaafkan daripada memperbesar perselisihan.
Keberhasilan memakmurkan masjid pada akhirnya tidak hanya diukur dari megahnya bangunan, banyaknya kegiatan, atau ramainya jamaah. Keberhasilan yang sesungguhnya tampak ketika masjid menjadi tempat tumbuhnya iman, ilmu, akhlak, dan persaudaraan. Masjid yang makmur adalah masjid yang para pengurusnya saling menghormati, para jamaahnya saling menyayangi, dan setiap persoalan diselesaikan dengan musyawarah, adab, serta semangat mencari ridha Allah, bukan kemenangan pribadi.
Semoga Allah Ta’ala menghiasi hati kita dengan kesabaran, melapangkan dada kita untuk menerima nasihat, menjaga lisan kita dari ucapan yang menyakiti, menguatkan langkah kita dalam berdakwah, serta mempersatukan hati seluruh pemakmur masjid di atas petunjuk Al-Qur’an dan As-Sunnah. Semoga setiap amal yang kita lakukan di rumah-rumah Allah menjadi pemberat timbangan kebaikan pada hari ketika tidak ada lagi naungan selain naungan-Nya. Āmīn.
Hawin Murtadlo Bukhori
