Masjid adalah rumah Allah sekaligus pusat pembinaan umat. Di sanalah kaum muslimin menegakkan salat, menuntut ilmu, berdzikir, bermusyawarah, mempererat ukhuwah, serta menyebarkan berbagai kebaikan. Allah sendiri menegaskan bahwa yang benar-benar memakmurkan masjid-masjid-Nya adalah orang-orang yang beriman, mendirikan salat, menunaikan zakat, dan hanya takut kepada-Nya.

Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا اللَّهَ ۖ فَعَسَىٰ أُولَٰئِكَ أَنْ يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ

“Sesungguhnya yang memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, mendirikan salat, menunaikan zakat, dan tidak takut selain kepada Allah. Maka, merekalah yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.”(QS. At-Taubah [9]: 18)

Ayat ini menunjukkan bahwa memakmurkan masjid merupakan kemuliaan yang Allah anugerahkan kepada orang-orang beriman. Karena itu, menjadi pemakmur masjid bukan sekadar amanah organisasi, tetapi juga karunia dan taufik dari Allah yang patut disyukuri.

Namun, para pemakmur masjid tetaplah manusia. Mereka memiliki latar belakang, usia, pengalaman, kemampuan, dan karakter yang berbeda-beda. Ada yang lembut, ada yang tegas. Ada yang cepat mengambil keputusan, ada yang lebih berhati-hati. Ada yang pandai berbicara di depan jamaah, ada pula yang lebih banyak bekerja di balik layar. Perbedaan ini merupakan sesuatu yang wajar, bahkan diperlukan agar berbagai kebutuhan umat dapat dilayani dengan baik.

Di sisi lain, perbedaan tersebut terkadang melahirkan kesalahpahaman. Ada ucapan yang tanpa disadari melukai hati, ada sikap yang menimbulkan kekecewaan, ada kritik yang disampaikan dengan cara yang kurang tepat, bahkan ada perbedaan pendapat yang berpotensi menyisakan ganjalan di hati apabila tidak diselesaikan dengan ilmu dan adab. Oleh sebab itu, setiap pemakmur masjid membutuhkan hati yang lapang dan kesabaran yang kuat agar perbedaan tidak berubah menjadi perpecahan.

Memakmurkan masjid bukan sekadar menjadikannya ramai pengunjung, tetapi menghidupkannya dengan salat berjamaah, tilawah Al-Qur’an, zikir, majelis ilmu, dakwah, pelayanan sosial, pendidikan, serta berbagai amal saleh yang semakin mendekatkan masyarakat kepada keimanan dan ketakwaan. Amanah sebesar ini tidak cukup dijalankan dengan semangat semata. Ia memerlukan ilmu agar tetap berada di atas petunjuk, niat yang lurus agar setiap amal diterima di sisi Allah, dan kesabaran agar mampu bertahan menghadapi berbagai ujian.

Allah Ta’ala berfirman:

قُلْ هَٰذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ

“Katakanlah, ‘Inilah jalanku. Aku mengajak kepada Allah dengan penuh ilmu (bashirah), aku dan orang-orang yang mengikutiku. Mahasuci Allah, dan aku bukanlah termasuk orang-orang musyrik.'” (QS. Yūsuf [12]: 108)

Ayat ini menunjukkan bahwa dakwah adalah jalan Rasulullah ﷺ sekaligus jalan setiap pengikut beliau. Dakwah tidak dibangun di atas prasangka, emosi, atau fanatisme, melainkan di atas ilmu yang benar. Namun, ilmu saja belum cukup. Ilmu harus dihiasi dengan kesabaran agar dapat menyentuh hati dan membawa manfaat bagi orang lain.

Allah Ta’ala juga berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan dengan sabar dan salat. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah [2]: 153)

Ayat ini memberikan ketenangan bagi setiap muslim yang sedang mengemban amanah dakwah. Tidak semua usaha langsung membuahkan hasil. Tidak semua nasihat segera diterima. Tidak semua program memperoleh dukungan. Bahkan, terkadang seseorang harus menghadapi kritik, penolakan, atau sikap yang kurang menyenangkan dari orang-orang yang sebenarnya sama-sama menginginkan kebaikan. Dalam keadaan seperti itulah Allah memerintahkan agar kita meminta pertolongan melalui kesabaran dan salat.

Juga juga berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Bersabarlah, kuatkanlah kesabaranmu, tetaplah bersiaga, dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.” (QS. Āli ‘Imrān [3]: 200)

Perintah ini menunjukkan bahwa kesabaran bukanlah sikap pasif atau menyerah pada keadaan. Kesabaran adalah keteguhan hati untuk tetap berada di jalan yang benar, menjaga adab, dan terus berbuat baik meskipun menghadapi berbagai ujian. Seorang pemakmur masjid tidak mudah putus asa hanya karena usulannya ditolak. Ia tidak berhenti berkhidmat hanya karena pernah disalahpahami. Ia juga tidak membalas perkataan yang kasar dengan perkataan yang kasar. Sebaliknya, ia berusaha memperbaiki keadaan dengan kelembutan, musyawarah, dan doa.

Dalam kehidupan masjid, kesabaran memiliki banyak bentuk. Bersabar mendengarkan pendapat orang lain meskipun berbeda dengan pandangan kita. Bersabar menerima kritik meskipun terasa kurang nyaman. Bersabar ketika gagasan yang kita ajukan belum dapat diterima. Bersabar membimbing jamaah yang masih belajar. Bersabar menghadapi orang yang mudah terpancing emosi. Bersabar menahan lisan agar tidak mengucapkan kata-kata yang memperkeruh suasana. Semua itu merupakan bagian dari ibadah yang sering kali tidak terlihat oleh manusia, tetapi sangat bernilai di sisi Allah.

Perlu disadari bahwa salah satu ujian terbesar dalam berdakwah dan memakmurkan masjid justru datang dari sesama manusia. Allah menciptakan setiap orang dengan kelebihan dan kekurangan yang berbeda. Ada yang lebih berilmu, ada yang lebih terampil bekerja, ada yang lebih pandai berkomunikasi, ada yang lebih teliti, dan ada yang lebih kuat dalam pelayanan. Ada yang punya kelebihan harta. Perbedaan ini seharusnya saling melengkapi, bukan menjadi sebab munculnya kesombongan atau perselisihan.

Allah Ta’ala berfirman:

وَجَعَلْنَا بَعْضَكُمْ لِبَعْضٍ فِتْنَةً أَتَصْبِرُونَ ۗ وَكَانَ رَبُّكَ بَصِيرًا

“Dan Kami jadikan sebagian kamu sebagai cobaan bagi sebagian yang lain. Maukah kamu bersabar? Dan Tuhanmu Maha Melihat.” (QS. Al-Furqān [25]: 20)

Ayat ini mengingatkan bahwa teman seperjuangan pun dapat menjadi ujian bagi kita. Bisa jadi kita diuji dengan rekan yang berbeda cara berpikir, berbeda kemampuan, berbeda keahlian, berbeda sifat, atau berbeda dalam menyampaikan pendapat. Ada yang cepat bertindak, ada yang lebih banyak mempertimbangkan. Ada yang sangat teliti, ada yang lebih praktis. Ada yang mudah menyampaikan kritik, ada yang pendiam. Semua itu merupakan sunnatullah dalam kehidupan bermasyarakat.

Oleh karena itu, janganlah setiap perbedaan dipandang sebagai ancaman. Selama masih berada dalam koridor syariat dan adab, perbedaan justru dapat menjadi kekuatan yang saling menyempurnakan. Di sinilah kesabaran benar-benar diuji. Mampukah kita tetap menghormati saudara kita ketika pendapatnya berbeda? Mampukah kita tetap bekerja sama meskipun karakternya tidak sama dengan kita? Mampukah kita menjaga hati dari prasangka, menjaga lisan dari ucapan yang menyakitkan, serta menjaga persatuan di atas kepentingan pribadi?

Pertanyaan-pertanyaan inilah yang hendaknya selalu kita renungkan setiap kali berkhidmat memakmurkan rumah Allah.

Hawin Murtadlo Bukhori

Share:

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *